Musi Rawas MT- Keterbatasan anggaran tidak membuat jajaran Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan, berpangku tangan. Menghadapi kenyataan minimnya alokasi dana konsumsi bagi para warga binaan, pihak Lapas memutar otak dengan memanfaatkan lahan tidur menjadi area produktif.
Saat ini, anggaran makan untuk satu orang warga binaan pemasyarakatan (WBP) hanya sebesar Rp22.000 per hari. Anggaran yang sangat minim tersebut harus dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan makan sebanyak tiga kali sehari.
"Kalau dihitung secara matematika, Rp22.000 untuk tiga kali makan itu artinya satu porsi makan nilainya tidak sampai Rp8.000. Tentu ini tantangan besar untuk memenuhi standar gizi mereka," ujar salah satu petugas Lapas.
Siasat Berladang di Dalam Lapas,Untuk menyiasati kondisi tersebut dan memastikan para narapidana tetap mendapatkan asupan makanan yang layak serta bergizi, Lapas Narkotika Muara Beliti menggalakkan program kemandirian berbasis agrobisnis.
Para warga binaan diajak untuk aktif berladang dan bercocok tanam di dalam area lingkungan Lapas. Berbagai jenis tanaman pangan dan sayuran cepat panen ditanam di sana, mulai dari: Sawi dan kangkung cabai dan tomat Terong,tanaman palawija lainnya.
Hasil panen dari ladang ini kemudian dialokasikan langsung ke dapur Lapas untuk disajikan sebagai menu tambahan (ekstra foding) pendamping nasi. Dan selain dari itu juga di jual ke luar Selain menghemat pengeluaran, langkah ini menjamin kesegaran dan kandungan gizi makanan yang dikonsumsi para napi. mengubah Keterbatasan Menjadi Keterampilan
Kalapas Narkotika Muara Beliti Herdianto " Saat dibincangi di kantor (6 Juni 2026 (menjelaskan bahwa kegiatan berladang ini memiliki fungsi ganda. Selain sebagai solusi ketahanan pangan internal di tengah keterbatasan anggaran, program ini juga menjadi sarana asimilasi dan pembinaan kemandirian bagi para narapidana kasus narkotika.
"Kami tidak ingin keterbatasan anggaran menjadi alasan menurunnya kualitas pelayanan, khususnya hak makan warga binaan. Melalui program berladang ini, mereka tidak hanya membantu mencukupi kebutuhan pangan diri mereka sendiri, tetapi juga pulang nanti membawa keterampilan bertani yang produktif," ungkap Kalapas.
Program ini mendapat respons positif dari para warga binaan. Mereka mengaku senang bisa beraktivitas di luar kamar sel, sekaligus mendapatkan ilmu bercocok tanam yang bisa menjadi modal usaha baru saat mereka bebas dan kembali ke masyarakat nanti. (Rls)

Posting Komentar